Kwalitas Pekerjaan Jalan Arteri Turatea Amburadul?

Jeneponto, Jurnalsepernas -Proyek Jalan Arteri atau Betonisasi melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM PISEW) di Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan berupa pengecoran jalan Panjang 628 Meter, Lebar 4 Meter, dan Tebal 20 Centimeter menelan Biaya Rp 600 juta, mengecewakan pengguna jalan.

Pasalnya, jalan arteri tersebut, yang menghubungkan antara Desa Langkura Dusun Tabbuakang dan Desa Paitana Dusun Bontomanai namun, kwalitasnya diduga sangat amburadul, karena terkesan dikerja asal-asalan sehingga, baru tiga bulan sudah terkelupas bagian atasnya, kuat dugaan campurannya tidak memadai.

Hal ini diakui Ketua PNPM PISEW dua Desa, Arifin Dacing saat dikonfirmasi di rumahnya Dusun Bontomanai, Desa Paitana, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Minggu (10/1), dirinya mengaku waktu pengecoran jalan tersebut, pada saat terik matahari sehingga, bagian atasnya terkelupas.

Sangat disayangkan, terkesan penjelasan pemilik proyek mengada-ada, karena dalam cuaca apapun kalau campurannya berkwalitas baik sesuai petunjuk teknis (Juknis) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), tentu pengecoran akan tetap kuat.

Beberapa kalangan menilai, keterangan Arifin Dacing hanya bualan alias alasan klasik saja yang tidak logis, karena masalahnya baru tiga bulan selesai dikerja sudah hancur. “Masa baru dikerja tiga bulan bagian atasnya sudah terkelupas,” protes salah satu tokoh masyarakat yang enggan namanya dimediakan.

Kondisi jalan begitu, diklaim pemilik proyek, pekerjaanya Juara Satu se Sulawesi Selatan. Bagaimana yang Juara Dua, Juara Tiga dan Juara 19? “Aneh kan, masa pekerjaan segitu nabilang juara,” timpal tokoh masyarakat tadi sembari geleng-geleng kepala.

Inilah hasil pekerjaan jalan betonisasi antardua desa yang dikerja Arifin Dacing, dimana ketika proses pengadaannnya proyek tersebut, diduga ada konspirasi antara Hamka B. Kady, Anggota DPR-RI Fraksi Golkar dan Arifin Dacing mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Turatea.

Arifin Dacing ketika dikonfirmasi terkait dugaan kerjasama dengan oknum anggota dewan dari Partai Golkar, dia menampik tidak ada hubungan sama sekali. “Oh itu tidak benar tidak ada hubungannya, karena saya Ketua Panwascam Turatea Tahun 2018 sementara proyek program ini datang pada tahun 2010,” elak Arifin Dacing kepada media ini.

Kepala Balai Pompengan Makassar mempertanyakan, bisanya juara satu di Sulawesi Selatan dengan kondisi pekerjaan begitu. “Kenapa bisa pekerjaan anda menjadi Juara Satu se Sulawesi Selatan, sementara dari hasil yang kita lihat, pengecoran jalan ini sangat amburadul karena baru tiga bulan sudah hancur,” tanya
Kepala Balai Pompengan.

Di tempat terpisah, Ketua LSM yang tidak ingin namanya dipublikasikan, berjanji akan melaporkan kasus ini ke Aparat Penegak Hukum, sebab dinilainya kwalitas pekerjaan tidak sesuai harapan masyarakat malah melukai hati rakyat yang tiap membayar pajak.
Pewarta: Arif
Editor : Loh