Rehab SMPN 1 Arungkrkeke Dinilai Bobrok?

Jeneponto, Jurnalsepernas.com-
Program Bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2020 di SMP Negeri 1 Arungkeke, Kabupaten Jebeponto, Sulawesi Selatan yaitu Rehabilitasi ( Rehab) Ruang Kelas beserta perabotnya empat ruang, anggaranya senilai Rp. 228 juta.
Rehabilitasi tersebut, masing-masing; Ruang Laboratorium IPA beserta Perabotnya satu unit sebanyak Rp.111 juta, dan Rehabilitasi Ruang Guru beserta Persabotnya satu unit sebanyak Rp.105 juta dengan total anggaran sebanyak Rp.444 juta.

Hasil investigasi dan monitoring Koalisi LSM/Wartawan, Rabu (23/12), ditemukan rangka kuda-kuda yang sudah keropos namun, masih dipasang pada bangunan rehabilitasi Ruang Guru yang hampir rampung pengerjaannya. Kuda-kuda yang sudah keropos itu, seharusnya diganti namun, Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Negeri 1 Arungkeke, Hairuddin, S.Pd yang akrab disapa Daeng Situru mengatakan, kepada Tim Koalisi LSM/Wartawan di ruang Guru, hal itu sudah sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). “Saya bekerja sesuai RAB,” kata Daeng Situru, sembari mengatakan, kaca jendela juga dia ganti. “Ini juga kaca yang ada di jendela ruang guru, tadinya kaca nako, tapi saya ganti dengan kaca pasang tetap,” ujarnya.

Demikian halnya tegel yang terpasang menurutnya, itu semua sudah sesuai RAB, namun dalam pengamatan tim, diduga tegel itu tidak sesuai dengan RAB.

Saat Tim Koalisi menanyakan gambar tehab? Daeng Situru mengatakan ada di Rumah. Ketika dipertanyakan. Apa patokannya dalam mengerjakan rehab, bila gambarnya ada di Rumah? Daeng Situru hanya ekspresi ketawa saja.

Pada bangunan rehab ruang kelas dan ruang laboratorium IPA, nampak pemasangan tegel diduga asal jadi, sehingga tidak terkesan layaknya sebagai ruang berlangsungnya proses belajar mengajar. Selain itu, dtemukan pula penggunaan balok gording ukuran 4cm x 6 cm diduga tidak sesuai dengan perencanaan awal.

Lanjut Kepsek SMP Negeri 1 Arungkeke juga mengatakan, semua kayunya sudah diberi Anti Rayap seharga Rp.20 juta lebih karena, itu ada di RAB.

Di hadapan Kepsek dan Tim LSM Koalisi, bendahara Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) sebagai pengelola keuangan mengaku, dirinya tidak terlalu di libatkan dalam hal pembelanjaan material, kebanyakan hanya menerima dan mengumpulkan nota pembenjaan dari Kepala Sekolah Hairuddin. “Saya kebanyakan menerima dan mengumpulkan nota pembelanjaan dari kepala sekolah pak,” akunya.

Anehnya lagi, bendahara tidak mengetahui, berapa jumlah dana yang dia cairkan, baik pencairan tahap pertama maupun pada pencairan tahap keduam. Maka dari itu, Tim Koalisi LSM LPK Sul – Sel, SEPERNAS DPC Jeneponto dan GERAK menduga keras bahwa, Tim P2S yang dibentuk oleh Kepala Sekolah sebagai pelaksana kegiatan tidak di fungsikan secara maksimal namun, dibentuk hanya sebagai syarat wajib dan formalitas belaka.

Dari hasil pantauan LSM Koalisi, bobroknya kwalitas pekerjaan tersebut, diduga juga karena lemahnya Pengawasan Pasilitator dan Panitia Pelaksana Tekhnis Kegiatan (PPTK) di lapangan.
Pewarta: ARIF
Editor : Loh