Proyek DAK SDN 24 Bontang, Dinilai Amburadul?

Jeneponto, Jurnalsepernas.com- Demi peningkatan mutu pendidikan seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud tak henti- hentinya menggelontorkan bantuan dana triliunan, untuk pembangunan gedung sekolah baru dan perbaikannya juga pengadaan meubeler ke semua tingkatan di bidang pendidikan yang di kerja secara swakelola oleh Kepala Sekolah masing-masing dengan tujuan, agar kwalitas pekerjaan terjamin.

Apa lacur, sangat disayangkan fakta di lapangan, banyak pengelola pendidikan (Kepala Sekolah, red.) menyimpang dari aturan sehingga, tidak seperti yang diharapkan masyarakat.

Salah satu kegiatan pembangunan sekolah yang diduga menyimpang dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) yakni; pekerjaan bangunan SDN 24 Bontang, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan yang mendapat kucuran dana bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2020 sebesar Rp 64400.0000 juta yang terbagi lima item kegiatan.

Dari pantauan Lembaga Koalisi LPK Sulselbar, DPC-SEPERNAS Jeneponto, dan GERAK RI, Senin (30/11) diduga penggunaan material, tidak sesuai dengan spesifikasi dan perencanan awal, seperti penggunaan besi dibuktikan melalui pengukuran sigma, penggunaan balok untuk kuda-kuda bangunan tersebut, menggunakan balok ukuran 5 x 10.

Kepala Sekolah (Kepsek), Syaripa Nadira, S.Pd ketika dikonfirmasi menyangkut hal itu, masih tetap berdalih bahwa, dirinya tetap mengerjakan berdasarkan ketentuan RAB. “Saya tidak berani kerja pak kalau tidak sesuai dengan RAB, karena saya mau pekerjaan itu maksimal,” ujarnya lirih.

Hal itu menandakan, Kepsek Syaripa egois dan maunya menang sendiri yang bisa di kategorikan kepala batu tanpa menghiraukan dugaan kekeliruan yg dilakukannya.

Di tempat yang sama, Karaeng Tombong sebagai Ketua Komite sekolah sekaligus Sekretaris Panitia Pembangunan Sekolah (P2S) mengaku, dirinya bersama rekan-rekan panitia P2S lainnya, tidak dilibatkan sebagai pelaksana kegiatan.

Nada yang sama, dilontarkan pula Sutriani sebagai bendahara P2S, dirinya pun hanya difungsikan sebatas pencairan dana, setelah cair dana diambil oleh Kepsek yang pengelolaan penggunaan dananya tanpa dia ketahui.

Syamsuddin anggota Koalisi LSM dari LSM GERAK RI sangat menyayangkan sistim kerja Syaripa, ibarat menganut sistim kerja tukang sate yakni; beli bahan, olah, dan disajikan. Pewarta: Arif, Editir: La Ode Hazirun