Hahaha Cerita dari Kawan

Makassar, Jurnalsepernas-Pasar Sentral, sekarang Makasaar Mall yang letaknya di jantung Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah pusat grosir terbesar di Indonesia Timur selain Pasar Butung.

Dulu, Pasar Sentral meski kelihatan kumuh dan jalannya becek namun, aktivitas perdagangan terbilang ramai saban hari. Pedagang eceran di emperan toko yang kerap disebut, Pedagang Kaki Lima (PKL), penjual obat keliling hingga pedagang kakap, berebut menguasai area pasar kuno itu.
Pengunjung yang berbelanja silih berganti datang berbagai daerah, tidak saja dari Sulsel tapi, juga Kawasan Timur Indonesia. Tak ayal, preman atau begundal, dan bramocorah alias maling menjalankan aksinya memanfaatkan kelengahan pengunjung.

Alhasil cerita kawan dimulai dari paragraf ini. Menurut M Yunus, kawan penulis itu, sekitar era 80 an, sekitar puluhan tenaga sekurity atawa Satuan Pengamanan (Satpam), ada seorang kurus krempeng bertugas di tempat kejam itu, sebut saja namanya Tata.
Penghasilannya terbilang lumayan berasal dari bosnya atau disebut, Kepala Pasar waktu itu, juga berasal dari para pedagang yang welas asih melihat Satpam tua yang sering batuk-batuk yang dibalut seragam kumal namun, pak tua semangat, rajin, dan bertanggung jawab menjalankan amanah yang diembannya, meski penghasilannya terkadang dipalak para begundal murahan anak buah oknum-oknum petugas dari TNI maupun Polri kala itu.
Lanjut cerita teman, suatu saat di sore hari, kawasan yang di huni kalangan pedagang dari ABC sampai Z itu geger. Di antara mereka ada yang bilang kebakaran karena, memang sering dilanda si jago merah namun, tidak ada asap yang mengepul mereka pun menunggu info selanjutnya. Ada juga beranggapan, ada maling tertangkap, geger karena dihakimi massa. Dari pada menunggu info yang belum jelas, kebanyakan orang-orang yang ada di situ mendatangi sumber kegaduhan.

Demikian halnya pak tua, setelah mendapat info dari teman-temannya, dia bergegas beranjak sembari berlalu dari posnya bagaimanapun hal itu berkaitan dengan tugasnya.”Saya harus ke sana ini tanggung jawab saya,” gumannya.

Tiba klimaks cerita teman, ternyata biang keributan adalah dua sosok mahluk yang ditakuti saat itu yakni; perkelahian satu lawan satu oknum tentara dan polisi yang tidak kuasa dilerai para pedagang apalagi pengunjung, memang di antara beberapa preman, ada yang berusaha mencegah namun, dihardik ke dua pelaku jotos. “Jangan coba-coba campur nanti saya bunuh,” hardik salah seorang pelaku.
Tata Si kurus krempeng tua terus berjalan menerobos kerumunan massa meski terkadang didorong dan disoraki beberapa orang penonton tapi, dia tidak peduli dan terus berupaya menggapai ke dua orang yang berlaga.

Tatkala adu jotos temponya makin tinggi, sekitar jarak lima meter Satpam tua berteriak. “Berhenti, kurang ajar tidak tau malu,” teriaknya. Spontan bak dikena stoom, semua terdiam dan tiba-tiba hening karena, menyaksikan dua oknum yang berlaga tadi terdiam dan menundukkan kepala. Semua yang menyaksikan peristiwa rada heroik itu, heran bercampur kagum.

Pak tua terus mendekati dua jagoan tersebut, lalu tiba-tiba, plak dan yang satunya lagi plak. Jadi kedua-duanya kena ditempeleng lalu ke duanya disuruh pulang, mereka pun nunut bentakan pak tua. “Pulang, tidak tau malu,” bentak pak tua, sembari diangguk ke dua orang lain korps itu dan berlalu sambil pamit.
Takjub, semua yang melihat itu takjub. Demikian halnya preman yang sering memalak pak tua, mereka pun mendekat dan salah seorang bertanya ingin tau. “Bapak ini sebenarnya siapa, berani sekali memukul bos kami,” tanyanya. “Oh, itu dua-duanya anak saya makanya mereka takut sama saya,” jawab Tata. Hahahaha, mulai saat itu para preman tidak berani lagi memalak pak tua, bahkan dia bertambah penghasilannya karena, mendapat setoran lagi dari para pencopet Ha ha ha. Diceritakan: M Yunus, Disadur: La Ode Hazirun.