Peserta Demo Dapat Menimbulkan Klaster Baru Penyebaran Covid-19

Oleh: La Ode Hazirun
Penulis Aktivis Pers Nasional

Pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) menjadi Undang-Undang Omnibus Law (Cipta Kerja) di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Relublik Indobesia DPR-RI Senayan Jakarta, 5 Oktober 2020 mendapat reaksi keras dari elemen buruh dan mahasiswa di berbagai daerah seluruh tanah air.

Ekses pengesahan tersebut, disambut demo besar-besaran sebagai reaksi penolakan Undang-Undang Omnibus Cipta Kerja tersebut. Hal ini tentu menjadi masalah baru bagi penyebaran Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Betapa tidak, pemerintah memberlakukan pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 di tanah air dengan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah yakni; jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan pakai sabun.

Ternyata apa yang ditetapkan pementah, nyaris dilanggar para pendemo saat itu. Mereka melakukan aksi dengan jumlah besar, di lokasi udara terbuka, dan gontok-gontokan, dorong-mendorong, pengrusakan fasilitas umum, sampai adu fisik dengan aparat keamanan menjadi tontonan yang memiriskan hati yang dapat memudahkan Virus Corona bereaksi menyasar masuk di tubuh para pendemo dan orang-orang yang berada sekitarnya, termasuk aparat keamanan. Mau atau tidak, suka atau tidak, terima atau tidak tuan Corona tidak pilih kasih, siapapun yang dia hinggapi pasti terjangkit.

Hal inilah yang dikwatirkan para dokter dan para medis pelaku kesehatan. Kenapa? Karena diantara ratusan atau ribuan demonstran, yang berkerumun dan desak-desakkan di alam bebas seperti itu, kemungkinan ada beberapa orang atau puluhan orang terpapar wabah berhaya itu tapi, mereka tidak merasakan ada gejala atau disebut, Orang Tanpa Gejala (OTG) maka, mereka inilah yang menjadi vektor atau perantara penyebaran virus yang mematikan itu, sungguh mengerikan.

Untuk itu penulis menyarankan, agar pemerintah daerah yang wilayahnya terjadi demo, kampus-kampus yang mahasiswanya melakukan demo, dan perusahan-perusahaan yang karyawannya turun ke jalan, melakukan rapid test dan karantina. Yang paling tepat mereka dengan kesadaran dan kemauan sendiri menjalankan karantina mandiri masing-masing minimal 10 hari.

Ini upaya efektif pencegahan dalam menutus mata rantai menularnya Virus Corona bagi keluarga dan teman-temannya yang tidak tertutup kemungkinan akan membahayakan kesehatan bahkan merenggut nyawa mereka akibat mengikuti demo tanpa memperdulikan protokol kesehatan. Kasihan para petugas yang menjaga keamanan demi ketertiban masyarakat harus terpapar Virus Corona demi panggilan negara ibu pertiwi.(****)