Oknum Kades Dinilai Tempramen?

GALESONG, JURNALSEPERNAS – Jiwa dan karakter tentara yang tegas dan disiplin, sangat bagus bila menjadi pemimpin pelayan masyarakat. Tapi, manakala jiwa kemiliterannya itu melekat pada dirinya untuk arogan, seenaknya memarahi bawahan, itu patut dipertanyakan.
Sebutlah salah seorang oknum Kepala Desa (Kades) purnawirawan yang diduga kerap arogan dan gemar memarahi bawahan ialah Burhanuddin Miala, Kades Pa’rasangan Beru, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dia paling banter memarahi stafnya dengan kata-kata yang tidak etis.

Berdasarkan hasil konfirmasi Jurnalsepernas, Rabu (5/10), sempat menemui Nuraeni di kediamannya, selaku korban arogansi Burhanuddin mengatakan, dirinya sangat kecewa atas ucapan tak elok atasannya itu seperti; hujatan setan, kongkong, dan makian ala bahasa Makassar.

Padahal Nuraeni melaksanakan amanah dari Dinas Sosial (Dinsos) untuk mengkonfirmasi kades, terkait Bard Code yang harus dikembalikan karena, ada empat orang penerima bantuan keluarga harapan bersifat ganda. Hal itu oleh pihak Dinsos disuruh mengembalikan karena, penerima Bantuan Program Keluarga Harapan (BPKH) tidak bisa lagi menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau BPMT serta lainnya.
Namun naas, loyalitas Nuraeni dapat timpaan yang kurang menyenangkan dan sangat menyinggung perasaannya, bahkan dengan emosional Sang Kades memberhentikan Nuraeni selaku Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan dan Operator Data Miskin.
Hal itu, dinilai tidak sesuai aturan berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014. Pasalnya, Kades dengan nada arogansinya melarangnya masuk kantor, bahkan langsung memecat Nuraeni.

Rahma, yang juga salah seorang staf kades mengaku ditelepon atasannya, Burhanuddin, untuk mencarikan pengganti Nuraeni. Rahma diancam, apabila tidak dapat mencarikan pengganti Nuraeni maka, dia juga akan diberhentikan sebagaimana Nuraeni.

Burhanuddin ketika dikonfirmasi soal perkataan tidak etis kepada bawahannya itu, membenarkan hal tersebut.
Menurutnya, hal itu dia lakukan sebagai tindakan pembinaan terhadap bawahannya, dan hal itu dinilainya wajar-wajar saja dimana dirinya selaku pimpinan. “Saya membina dan menasehati stap saya bahkan memarahinya karena, itu sipatnya mendidik,” ujar Burhanuddin.
Diakuinya, dirinya memarahi dan berkata kasar terhadap bawahan untuk mendidik mereka. “Saya berkata-kata setan, kongkon, dan sundala (Maaf tidak etis, red.) karena, saya dalam keadaan emosi,”pungkasnya.

Editor :Rusmin, Pewarta: Abdul Aziz