Ketua Pangkalan Kakatua Hitam, Korban Penikaman

SUMAHAI, JURNAL SEPERNAS – Para supir yang mengangkut para penumpang yang mendulang ke lokasi penambangan rakyat di gunung Kabupaten Yahukimo, Papua memiliki wadah yang bernama Asosiasi Kakatua Hitam yang membawahi 27 orang. Asosiasi ini memiliki pangkalan di ibukota Yahukimo, Sumahai untuk memungut retribusi buat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Yahukimo yang diketuai, Kilonas Sobolim (29).

Tertikamnya Kilonas (Ketua Pangkalan, red.), akibat ulah salah seorang supir, Pitus Pahabol menolak mengangkut oknum kepala kampung Mosom, Rubben yang meminta diantar ke kota, tapi ditolaknya dengan alasan penumpang sendiri. Rubben memiliki hak ulayat di salah satu gunung Yahukimo. Dengan angkuhnya Titus meninggalkan Rubben menuju Kali Kabur yang merupakan tempat para pendulang menunggu mobil angkutan menuju lokasi pendulangan emas rakyat.

Di Kali Kabur tersebut, Pitus mendapatkan penumpang tujuh orang yang langsung diantarnya ke lokasi pendulang, dimana dia melewati tempat Rubben menunggu kendaraan tumpangan. Menyadari hal itu, Rubben naik pitam merasa dicuekin Pitus. Akibatnya Rubben bersama anaknya berusaha mengejar Pitus, dimana kebetulan lewat sebuah mobil Tronton warna merah, langsung menumpanginya mengejar Pitus dan alhasil dapat menyalip dan memalangnya. Maka terjadilah pengrusakan mobil dan penganiayaan terhadap Pitus, Jumat (3/5) namun, Pitus berhasil melarikan diri dan salah seorang temannya melapor pada ketua pangkalan.

Menyadari adanya kejadian yang menimpa salah seorang supir di bawah tanggung jawab ketua pangkalan, hari itu juga Kilonas bersama beberapa orang supir melaporkan kejadian itu di Polres Yahukimo Unit Lalulintas yang diterima Kepala Unit Lalulitas (Kanit Lantas), pihak asosiasi meminta aparat Kepolisian Resort (Polres) Yahukimo memproses kasus pidananya.

Menurut Kilonas, berhubung tidak adanya tindakan hukum dari Polres, keesokan harinya, Sabtu (4/5) pagi, pihaknya bersama aparat kepolisian setempat yang juga berasal se kampung dengan kepala kampung, hendak menemui pelaku untuk memediasi upaya perdamaian di kediaman kepala kampung. “Ternyata pelaku bersama warganya kurang lebih 100 orang sudah siap siaga mengadakan perlawanan dengan berbagai senjata (Sajam) dan panah di tangan masing-masing,” ujar Kilonas di kediaman penulis, Senin (1/6) di Dekai.

Lanjut Kilonas, setiba di lingkungan pemukiman kepala kampung, mereka dikepung warga setempat dengan sajam dan panah membidik. Secara tiba-tiba salah seorang dari pengepung menikam belakang bagian kiri Kilonas sedalam 15 centimeter, korban kemudian tersungkur bercucuran darah. Melihat kejadian itu, polisi yang menemani Kilonas menangis sembari membuka bajunya dan mengangkat tangan, saat itu jugalah kejadian kemilukan itu berhenti dan korban dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan serius.

Usai kejadian menyakitkan itu, Kilonas melapor ke Polres untuk penegakkan hukum namun, kemudian terjadi kesepakatan dengan teman-teman se suku Kilonas diselesaikan secara hukum adat yakni; kena denda bagi pihak-pihak yang bersalah (Denda semacam ganti rugi, red.). “Itu kita lakukan untuk mencegah tidak terjadinya perang suku,” imbuh Kilonas.

Ditambahkannya, dalam proses perdamaian tersebut, ada tiga pihak yang dituntutnya dengan jumlah uang denda Rp 70 juta. Pihak-pihak yang harus membayar; 1. Pihak pelaku pelaku penikaman sejumlah Rp 20 juta, 2. Pihak yang menolak mengangkut Rp 10 juta, dan 3. Pihak para supir diminta Rp 40 juta, tapi sampai berita ini diturunkan, belum ada pembayaran. Jadi  dana yang terkumpul baru Rp 30 juta.

Sehubungan kejadian akibat ulah salah seorang supir itu, Kilonas beharap agar para supir mau toleran menghargai ketua pangkalan dan menerima segala kekurangan. “Saya harap para supir menerima kekurangan saya dan ketua pangkalan yang baru nanti lebih baik dari saya,” pinta Kilonas. Sembari mengatakan, para supir satu hari tidak pegang uang, mereka gelisah bagaikan kehilangan stir.

Terkait kejadian ini Kilonas menilai, penegakkan hukum oleh Polres Yahukimo lemah seperti terjadi pembiayaran kepada para pelaku melakukan kejahatan. Kilonas seorang pemuda bersama teman-temannya merindukan penegakkan hukum di Yahukimo. “ Saya sinis melihat penegakkan hukum di Polres Yahukimo, sepertinya aparat takut ancaman panah masyarakat,” pungkas Kilonas dari Suku Hukla, Distrik Kayo.(loh)