Oknum Satpol PP Kota Makassar Di Duga Salah Tangkap

MAKASSAR – JURNALSEPERNAS, Ketua umum LSP3M Gempar Indonesia Sulawesi Selatan melayangkan Laporan ke Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Walikota Makassar, ditembuskan ke Dinas sosial kota Makassar dan Kepala Satuan Pamong praja ( Satpol PP Kota Makassar), dimana Ketua umum LSP3M Gempar,  Melaporkan atas adanya Ibu Rosdia datang di kantor melakukan Pengaduan kepada ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi Selatan Amiruddin, SH. Krg.Tinggi,  atas dugaan salah tangkap terhadap diri Hafifah Indah binti Hamka umur 19 tahun pada tanggal 13 Februari 2020 di Hotel Mangga dua, Jalan Irian sekitar Pkl 22.00 Wita.

Dikatakan oleh ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi Selatan, bahwa Hafifah Indah berada dihotel Mangga dua hanya karena mau membuat acara dengan teman- teman sebayanya yaitu untuk merayakan malam Valentine, dan sebelum teman- teman Hafifah Indah datang, karena perjanjian teman Hafifah Indah akan merapat kehotel Pkl 23.00 Wita, Satpol PP kota Makassar datang sekitar jam 10.00 menggerebek dan menggelandang Hafifah Indah ke kantor Satpol PP pada malam itu juga, pada saat penggerebekan dilakukan oleh Satpol PP,  ada beberapa penghuni kamar lain yang ikut ditangkap termasuk beberapa pasangan yang ikut  digelandang kekantor satpol PP kota Makassar dan  sebagian dibebaskan.

Imbuhnya lagi bahwa penangkapan terhadap diri Hafifah Indah diduga melanggar Peraturan Menteri sosial No 16 tahun 2019 tentang standar Nasional Rehabilitasi Sosial Bab I ketentuan umum pasal 1 Sampai dengan pasal 9, Bab II Rehabilitatif sosial dasar bagian Kesatu umum pasal 8 dan pasal 9, dan diduga melanggar Undang undang RI No 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia karena Hafifah Indah binti Hamka bukan wanita Tuna Susila dan bukan perempuan Prostitusi online.

Menurutnya ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi Selatan ini,  bahwa kini Hafifah Indah binti Hamka direhabilitasi di Pusat Pelayanan Sosial Karya Wanita Mattiro deceng sejak tanggal 14 Februari 2020 Sampai saat ini, Rehabilitasi Sosial itu melakukan pembinaan mental kepada Wanita Tuna Susila ( WTS ) dan orang ketergantungan Narkoba, memberikan pelatihan terhadap orang yang direhabilitasi tersebut, tetapi apa yang terjadi kepada diri Hafifah Indah bukannya dibina mentalnya, justru Rehabilitasi terhadap diri Hafifah Indah dirusak mentalnya dan dirusak masa depannya.

Lanjut Amiruddin SH ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi selatan, bahwa kami berharap agar dinas terkait dalam hal ini Dinas sosial kota Makassar yang merekomendasikan Hafifah Indah untuk di Rehabilitasi di Pusat Pelayanan Sosial Karya Wanita Mattiro deceng dan dinas sosial provinsi Sulawesi Selatan yang membawahi Lembaga Sosial Pusat Pelayanan Sosial Karya Wanita Mattiro deceng agar kiranya mengeluarkan Hafifah Indah binti Hamka yang sudah kurang lebih 2 bulan di Rehabilitasi hanya diduga salah tangkap oleh satpol PP kota Makassar dan kiranya dikembalikan ke rumah orang tuanya karena  Hafifah Indah masih dalam pengawasan orang tuanya, dan belum pernah menikah.

Dan ditambahkan lagi Ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi Selatan yang dikenal vokal ini, bahwa Hafifah Indah binti Hamka diduga dirampas hak kemerdekaannya akibat diduga salah tangkap dilakukan Rehabilitasi di Pusat Pelayanan Sosial Karya Wanita Mattiro deceng.

Dijelaskan lagi oleh Amiruddin SH ketua umum LSM Gempar Indonesia Sulawesi Selatan bahwa Hafifah Indah binti Hamka layak dikeluarkan ditempat Pusat Pelayanan Sosial Karya Wanita Mattiro deceng karena karena bukan wanita Tuna Susila,karena yang berhak direhabilitasi ditempat itu adalah orang yang Tuna Susila dan orang ketergantungan Narkoba, apalagi sekarang dengan adanya Pandemi Covid 19 virus Corona yang mematikan itu yang cepat menular Hafifah Indah dikembalikan ke rumah orang tuanya, jangankan hanya di Rehabilitasi karena dugaan tuduhan Wanita Susila, Narapidana dana saja yang sementara menjalani Hukuman karena putusan pengadilan dikeluarkan demi untuk memutus mata rantai Covit 19 virus Corona yang mematikan itu.

Narasumber :  Ketua LSP3M ( Amiruddin, SH. Krg. Tinggi )

Editor            :  Bakhtiar Bory