Ketika Wartawan Sering Di Dzalimi

SOPPENG – JURNALSEPERNAS

Ketika Wartawan Sering Terdzalimi 
Oleh: RUSMIN ( Kord. Sepernas Indonesia )

Penulis Aktivis Media dan Jurnalistik/ PERS Kab. Soppeng sekaligus sebagai Pemerhati Sosial Kemasyarakatan. 31/03/2020

PERS dan wartawan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ibarat sebuah armada transportasi laut, PERS kapalnya dan Wartawan adalah awaknya. Atau Pengertian sederhananya, Pers adalah perusahaan penerbitan atau penyiaran seperti: Media cetak, Elektronik, dan online, sedangkan wartawan adalah orang- orang yang menjalankan tugasnya, tanpa media wartawan tidak bisa bekerja, demikian sebaliknya, tanpa wartawan media tidak dapat beroperasi. Dalam tatanan Negara berdemokrasi, Pers berada di jajaran four state atau pilar ke empat (4) di Republik ini sesudah eksekutif, legislatif, yudikatif dan Pers. Dmana dalam perjalanannya empat fungsi yakni; sebagai media Informasi, media pendidikan, media hiburan, dan Kontrol sosial, karena bergerak di bidang informasi, atau pemberitaan yang berhadapan di berbagai kalangan, wartawan dalam menjalankan tugasnya di Patron dalam payung hukum yakni; UU no 40/1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Ketik wartawan menjalankan fungsinya yang keempat, Kontrol Sosial, banyak kalangan yang mengemban jabatan alergi dan kebakaran jenggot, hingga mengumpet tidak mau di temui, mereka ini kelabakan Sampai sampai emosi bila sempat dikonfirmasi dengan pekerjaan yang mereka tangani terindikasi yang sifatnya beraroma korupsi, ada penyalah gunaan jabatan dan wewenang yang mereka kemas tidak mau diuber para pemburu berita.

Orang orang yang terindikasi mempunyai kesalahan inilah yang sering berbenturan dengan para wartawan hingga mendzalimi maka, sering kita mendengar wartawan dilarang meliput, dianiaya, dan dihina singkatnya  berbagai macam tantangan dan perlakuan yang tidak bersahabat dari orang – orang yang tidak mau di kontrol dan dikoreksi kinerjanya.

Mereka terus menerus menjalankan penyimpangan terutama yang berkaitan dengan penggunaan Anggaran. sebutlah, mereka ini yang tugasnya berhubungan dengan uang atau dana. Contoh kecil unsur pejabat SKPD, kepala Desa, kepala sekolah,dan Anggota atau oknum polantas. Harus juga diakui bahwa, banyak pejabat tidak bisa membedakan mana wartawan tanpa surat kabar (wts), mana wartawan muncul tampa Berita (muntaber), Mana LSM. Mereka petantang- petenteng dibekali embel -embel seperti; uni form (seragam) ID card (Kartu identitas), tas dan Atribut lainnya. Etika kesopanan gaya bahasa tidak menjadi soal, yang penting belaga dan berani’tampil. Dalam kesempatan ini ingin penulis menjelaskan bahwa, untuk mengenal wartawan sangat muda, jangan hanya melihat penampilan chassing belaka, lihatlah medianya dan beritanya sebab, yang di maksud dengan wartawan adalah orang-yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik berdasarkan aturan yaitu Pasal 1 ayat (4) UU No 40/1999.

Sekiranya yang dilihat adalah Nama medianya sama dengan tertera dalam kartu Persnya. tapi sebenarnya kalau mau lebih jauh ada namanya di box Redaksi dan ada beritanya di media yang dia Bawa dan tidak di ragukan lagi, satu hal penulis ingin menekankan kepada rekan – rekan Jurnalis bila merasa di Dzalimi seperti; Tidak diizinkan meliput, diancam, dan dihina / dilecehkan silahkan melapor ke polisi dengan dasar atuaran yang sudah ditetapkan atau  gunakan pasal 18 UU No 40/1999.  Mengenai ketentuan Pidana: setiap orang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang -halangi pelaksanaan ketentuan pasal 4:ayat (2)dan ayat(3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 Tahun (dua) atau denda Paling banyak Rp. 500.000.000,(Lima ratus juta rupiah). Yang paling aman saling menghargai  profesi kita , tingkatkan kemitraan, Galang Persatuan demi Indonesia jaya.

 

Rusmin